Kamis, 02 Mei 2013

Pencari Ketenangan




Sabtu malam di gardu kampung, terlihat seorang pemuda sedang merencanakan sesuatu bersama warga lainnya. Wajah mereka terlihat antusias mendengar rencana ini. Di wajah mereka seakan tergurat pesan "Akhirnya! Tiba waktunya"
Dan tak kalah berapi api, pemuda tadi menjelaskan rencana tadi. Rencana besar yang mungkin akan merubah wajah kampung, rencana yang merupakan letupan kekesalan yang tersimpan sejak lama.
Drttt... Drtttt... Drttt 
Hp pemuda yang terlihat berapi api tadi bergetar. Menandakan telpon masuk.
*Klik*
"Hallo." 
"Lapor, Kijang satu pada Hiena satu. Para Babi telah melewati pintu perangkap. Siap dieksekusi!" 
"Oke. Kijang. Laporan saya terima. Segera beritahukan yang lain untuk menutup perangkat. Sudah saatnya." Pemuda yang disebut Hiena menyeringai tajam. Memperlihatkan giginya yang kurang rapi. 
"Siap! Segera saya laksanakan. Malam ini bakal menjadi malam yang indah, Jun." 
*Klik* Pemuda Kijang mematikan handphonenya. Dia sekarang sibuk mengkomando pasukan yang dia bawa untuk menutup pintu perangkap.
"Cepat! Cepat kita ditutup! Ayo kita bantu Juni dan warga lainnya" Pemuda Kijang tadi berseru.


Sementara itu, dikawanan "Babi" yang baru saja memasuki perangkap.
"Coy, kok tumben sepi banget ya." 
"Iya, nih. Tumben." Kata seorang laki bercambang, sambil memainkan gas motornya. Membuat kebisingan seperti malam malam sebelumnya. 
"Eh.. Liat itu liat. Di depan kita. Kok ada palang palang gitu?" Pria pertama tadi memicingkan matanya, meyakinkan apa yang dia lihat. 
"STOP! Semuanya STOP!" Pria bercambang yang ternyata ketua menyuruh anggotanya untuk berhenti. Dia mencium ketidakberesan disini.
Benar saja. Di sekitar palang tadi sudah berkumpul puluhan bahkan ratusan warga. Mereka terlihat membawa berbagai macam senjata, parang, samurai, gir motor, tombak, dan kapak. Wajah mereka memperlihatkan senyuman bengis. Siap menyerang kapan saja jika dikomando sang Hyena, yang berada di tengah. 
Sementara, dari belakang. Tanpa disadari pasukan si Kijang yang tadi menutup pintu perangkat sudah sampai di belakang gerombolan "Babi" tadi.
Sang Ketua yang bercambang tadi keliatan agak gentar. Sementara anggota lainnya pun demikian, lebih buruk malah.
"Apa apaan ini? Mau apa kaliann?" Ketua bercambang tadi mencoba menyembunyikan getar di kalimat terakhir.
"Mau apa kalian? Mau apa?" Dia mengulangi lagi. Kali ini dia sudah dapat mengatasi getarnya.
Juni melangkah ke depan, sambil merapikan bajunya.
"Apa apaan? Mau apa kami?"
Juni meludah
"Yang apa apaan itu kalian! Setiap datang kesini selalu membuat bising! Mau kami?! KAMI MAU KALIAN MATI! DAN KETENANGAN KEMBALI KESINI! HAHAHAHAHA"

Juni tertawa lepas, sejurus kemudian diikuti warga lainnya.
"Hah? Apa?! Apa salah kami?" Tanya salah satu anggota gerombolan babi.
"Salahmu? Jadi kamu belum tau salahmu? Hahaha. Coba tanya saja ke knalpot dan gas-mu itu" Juni lalu tersenyum satir, menengadah ke langit. Seakan meminta izin untuk memulai pesta malam ini.
"Jadi, apa kalian sudah tau salah kalian? Kalau sudah, berarti sekarang giliran kami mengadakan pesta untuk kalian. Kalian mau gabung?" mimik wajah Juni dibuat bodoh saat menanyakan itu. Hening terjadi sesudah kemudian.

"SEMUANYA! AYO KITA MULAI PESTA INIIIIII!" Juni berteriak lantang mengacungkan samurai di tangan kanannya. Seakan terompet di saat pesta, seruan tadi membuat warga dibelakangnya dan dibelakang si Kijang bereaksi. Mereka terdengar lantang mengucapkan kalimat yang sama! MATI!
"AYO SEMUA!" Kijang mengkomando pasukannya.
Para gerombolan babi di tengah terlihat ketakutan. Mereka tau ajal mereka akan segera tiba. Yang mereka tak tau, ajal itu datang lebih cepat dan karena ulah mereka sendiri.

"MATI KAU KEPARAT!" Juni menghunuskan samurainya ke Ketua Gerombolan Babi itu. Sayangnya dia sempat mengelak. Hunusan itu cuma menyerempet di bagian tangan si Cambang. Darah segar mulai mengucur dari luka itu. Melihat lawanya terluka, Juni makin bersemangat. Kali ini dia menyabetkan samurainya dari arah kanan. TEPAT! Sabetan itu mengenai tangan kanan si Cambang. Si Cambang terlihat berteriak kesakitan, tanganya hampir putus karena ketajaman samurai itu. Juni tak menunggu lama, dia mengayunkan senjatanya lagi kearah leher si Cambang.
TASSH! 
Leher itu tepat terkena ayunan samurai, si empunya terlihat meregang nyawa. Sementara Juni tertawa lepas.
"MATI KAU, KEPARAT!" Juni menyabetkan pedangnya sekali lagi. Memastikan si Cambang mati dengan memisahkan kepala dengan badannya. Darah segar menyembur kemana mana. Alhasil seluruh badan Juni berubah jadi merah.

"Jun, kalau sudah selesai dengan itu. Ayo kesini. Kita bedah terus kita arak keliling kampung jantungnya!" Seru seorang warga. Penampilannya tak lebih baik dari Juni, tapi yang jelas darah dimana mana.


50 menit kemudian, pesta usai. 
Semua babi sudah mati, berarti misi sudah sukses dijalankan. Terlihat raut muka capek, dan puas di semua warga. Tak ada raut bersalah satupun. Karena memang ini yang mereka inginkan.
"Kita apakan mayat mayat babi ini, Jun?" Kijang menghampiri Juni.
"Penggal kepala mereka semua lalu kumpulkan dikarung, besok kita larung di laut. Terus bakar tubuh mereka bareng sama motornya." Jawab Juni tanpa ekspresi.
Tanpa banyak cakap lagi, Kijang memerintahkan warga untuk memenggal kepala babi babi itu dan membakar tubuh dan motornya. Tak ada ketakutan sedikitpun di wajah para warga, mereka malah tersenyum melihat kobaran api yang mulai menjilat badan yang hancur karena samurai/parang/gir/tombak dan motor para gerombolan babi babi tadi. Mereka menyaksikan dengan senang sampai tubuh tubuh itu menjadi abu.
"Mas. Ini kepala mereka sudah saya kumpulkan di karung ini. Terus saya musti apakan, mas?" Tanya seorang warga kepada si Kijang.
"Gimana, Jun. Jadi dilarung?" si Kijang menoleh ke Juni.
"Jadi. Simpan saja kepala kepala bangsat itu di gardu. Besok kita larung bersama. Kita persembahkan kepala ini ke Penguasa Laut Selatan. Hahaha" Juni menjelaskan.
Sisa malam itu, jalanan di dekat kampung kembali tenang seperti dulu. Tak ada lagi suara bising dari knalpot jahanam komunitas motor. Bau knalpot menyengat yang selalu datang telat tak lagi tercium, yang ada bau darah anyir. Darah para anggota komunitas yang selama ini mengganggu ketenangan mereka tiap malam minggu itu. Akhirnya suara jangkrik dan nyanyian katak dapat terdengar lagi, symphony merdu yang selama ini telah direnggut paksa.
Sekian.
Catatan: Lagi iseng buat cerpen pembunuhan. Tapi masih kurang sadis, soalnya masih bingung nulis kata kata buat adegannya. Cerpen ini sebenernya curhat, jadi cerita komunitas motor itu beneran ada. Mereka tiap malam minggu lewat jalan depan rumah, mereka naik motor kaya trektrekan. Kan sebel juga lama lama :(.. Pengen sih, sekali kali ngasih pelajaran mereka biar gak berisik. Tapi, siapalah saya ini. hhe
Semoga aja anggota komunitas itu enggak baca tulisan ini. Bisa bisa dibakar rumah ane -___-"

4 komentar:

  1. merinding waktu baca si Juni menggal kepala si Cambang :| at least, menurut aku udah lumayan serem, sih. haha

    BalasHapus
  2. yah, nggilani Pret ceritane, mbunuh-mbunuh :/
    tapi rapopo sih.

    heh, anggota geng motor iku........buapakku! :p

    BalasHapus
  3. keren keren.. iya, tapi kurang sadis, kurang detail pembunuhannya. tapi over all keren banget cara nyritainnya
    salam kenal yaa :D

    BalasHapus
  4. NOTE: postingan ini didedikasikan kepada para gondes yg berkeliaran di kampung mlm hari. waspadalah, ndes!

    BalasHapus

Berkomenlah dengan santai, tak usah kau terburu buru. I love you~