Rabu, 19 Juni 2013

Cinta Maya Seorang Blogger [2]

Sebelumnya di sini

Di depan kelas XII IPS 2, seorang cowok celingukan. Wajahnya kelihatan bingung. 

"Kemana ya, anak itu. Kok jam segini belum nongol. Apa jangan jangan dia gak berangkat." Cowok tadi mulai berspekulasi sendiri. 
Sementara itu, dari arah pintu gerbang. Seorang cewek lari dengan terburu buru. 
"Sebentarrr, pak!!" 
"Eh, Anggun. Buruan masuk, gerbangnya mau saya tutup." 
"Hehe. Iya pak. Ini juga mau masuk. Terimakasih." 
Pak satpam "berkumis lele" itu pun, melanjutkan aktivitasnya yakni menutup gerbang sekolah. 



Memasuki wilayah ruang kelas XII, Anggun melambatkan langkahnya. Dia melihat orang yang sedang celingak celinguk di depan kelasnya. Orang yang tak asing lagi, Juni. 

"Lah, itu Juni bukan ya. Kenapa dia celingak celinguk di situ. Bentar lagi kan masuk." Batin Anggun 
"Hey, Jun." sapa Anggun tiba tiba. 
"Eh. Ini dia yang ditunggu tunggu muncul." 
"He? Kamu nungguin aku? Kamu enggak sakit kan. Udah minum obat?." 
"Yee.. Seriusan juga. Entar malem bioskop yuk. Mau gak?" 
"Kapan? Entar malem? Entar deh. Aku ada acara ato enggak. Entar aku kabarin. Hehe" Anggun berusaha menyembunyikan kegirangannya. 
"Yaudah, kalo gitu. Aku masuk kelas dulu ya. Bye."

"Jun, entar malem bisa. Seperti biasa ya, jemput. :p" 
"Message sent to: Juni."

Drrtt.. 
Ponsel di kantong Juni bergetar. SMS masuk! Pelan pelan dia ambil ponselnya, takut ketahuan guru yang mengajar. Begitu selesai membacanya, Juni tersenyum penuh makna.
Mungkin ini bukan "Jalan bareng" yang pertama buat Anggun dan Juni. Tapi Anggun selalu merasa degdegan, dia juga selalu bingung mau pake baju yang mana. Hingga pernah sekali waktu dia memakai dress, dan berakhir tertawaan Juni. Begitupun malam ini, dia bingung mau pake baju yang mana. Sudah 5 stel baju tergeletak lusuh di atas kasurnya.

TINN..TINN.. 
Suara klakson motor Juni, menghentikan kesibukan Anggun. 

"Ah. Kenapa dia udah datang ajasih." Batin Anggun.
Dengan asal asalan akhirnya dia mengambil baju yang agak kegedean di sudut lemarinya untuk dipakai. Tak lupa juga sedikit make up dan tatanan rambut.
"Lama amat tuan putri dandannya." Sapa Juni setelah melihat Anggun keluar dari pintu. 
"Hehe. Iya maap. Yuk gas" Anggun tersipu malu lalu naik ke motor bebek Juni. 
"Siap jalan, juragan! Mau dimana?" Juni menanyakan kemana mereka pergi. 
"XXI AMPLAZ aja, katanya tadi mau ngobrolin sesuatu juga kan." kata Anggun sambil memakai helm pemberian Juni. 
"Okedeh! Siap jalan!" Juni mulai menghidupkan motor.
"Nggun." 
"Hah.. Apa.?!" 
"Kamu malem ini cantik." 
"Hah? Enggak bisa nanti aja ngomongnya? Kita masih dijalan. Gak kedengaran!" 
"K.A.M.U. C.A.N.T.IK!" 
"Hah?!" 

Sebenarnya Anggun sudah mendengar perkataan Juni sejak awal, tapi dia tidak begitu yakin. Makanya dia meminta mengulangi. Kini Anggun yakin, bahwa yang dibilang Juni tadi benar benar "Kamu Cantik." Pipinya memerah, entah sadar atau tidak Anggun mulai melingkarkan tangannya di pinggang Juni. Sangat erat. Seakan tak mau kehilangan. Walaupun ini baru awal dari lika liku kisah mereka.

***
"Panggilan kepada penumpang tujuan Bandung, kereta akan segara berangkat." Suara toa diatas kepala Juni. 
"fyuhh.." Juni menghembuskan nafas dengan berat. Entah sudah berapa kali dia menghubungi Anggun, sahabatnya untuk berpamitan. Tapi sampai detik ini belum tanda tanda batang hidungnya. 
"Mungkin dia kecapekan." Juni berpositiv thinking, kemudian dia melangkahkan kakinya memasuki kereta. Sebentar lagi salah satu mimpi kecilnya akan terwujud, bertemu Reza!

Sementara itu, di depan stasiun. Anggun turun dari ojek dengan terburu terburu, kemudian berlari memasuki stasiun. Tadi jam 7.30 dia terbangun, dan benar apa yang dikiranya semalam. Begitu dia mengaktifkan hp, langsung disambut notif. 21 Missed Call, dan 13 New Massage, dan semua pengirimnya sama. JUNI!.
Dengan tergesa Anggun menyusuri lorong stasiun, sesekali dia melirik jam tangannya. 07.55. "Pasti kereta Juni sudah berangkat." cemas Anggun. 
Anggun pun bergerak menuju pos informasi. Dia menanyakan keberangkatan kereta tujuan Bandung. 
"Sebentar lagi, dek. Itu di rel yang sebelah sana." Ujar petugas sembari menunjuk posisi kereta. 
Secercah harapan! 
"Oh, terimakasih kalau begitu pak." 
"Iya. Sama sa.." Belum selesai petugas tadi berbicara, Anggun sudah lenyap.
"Nah. Itu keretanya." Anggun yang kemudian berlari setelah diberitahu letak kereta oleh petugas, akhirnya menemukan kereta tersebut.

TUUTTTTTT... 
CZZZZ CZZZ.. 
Suara peluit dilanjut deru mesin pertanda kereta segera berangkat. Perlahan kereta pun bergerak, menjauh meninggalkan Anggun yang ngos ngosan di ujung gerbong. 
"HAAHH.. Keretanya berangkat!" Anggun berlari mencoba mengejar. Tak lama dia berhenti. Percuma juga dikejar, toh keretanya gak akan berhenti dan balik lagi. Dengan masih ngos ngosan Anggun beranjak dari tempatnya berhenti, dilangkahkan lagi kaki berbalut sepatu converse-nya mencari tempat duduk yang agak pojok. 
"Huuh" Anggun menghela napas, diikuti gerakan bahunya menyender tempat duduk. 
"Pasti Juni kecewa, aku enggak bisa dateng. Padahal dia udah bilang sejak lama tentang saat ini. Salahku juga sih, kenapa juga aku musti kalah dengan egoku sendiri. Seharusnya aku mendahulukan perasaan Juni, baru perasaanku. Eh. Tapi. Salah Juni juga sih. Buat apa dia jauh jauh ke Bandung menemui orang yang belum pernah sekalipun ketemu sebelumnya." Anggun berargumen dengan pikirannya sendiri. 
"Sudahlah. Mending aku pulang. Seminggu lagi kan dia pulang. Aku bisa minta maaf, dan mulai saat ini aku akan belajar menjadi sahabat yang sebenarnya." Anggun mulai beranjak dari kursi yang sedari tadi dia duduki. Untuk terakhir kalinya dia menengok rel, siapa tau tadi bukan kereta yang ditumpangi Juni. Dan Juni masih berkeliaran di sekitar rel.

*glek*
Anggun melanjutkan langkah kakinya. Kereta yang tadi memang kereta tujuan Bandung. Juni sudah ke Bandung. Ke negeri antah berantah.

"Salah satu impian kecilku sebentar lagi terwujud. Aku bakal ketemu kamu, Za!" 
Juni memandang visual perjalanan lewat jendela kereta. Dalam hati dia kegirangan.


Bersambung... 
Lanjut ke sini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomenlah dengan santai, tak usah kau terburu buru. I love you~